Didalam sudut ruangan berbentuk persegi, ada sosok yang
mulai berfikir. Membayangkan tentang apa yang ingin dipikirkannya. Satu persatu
kepingan masalah mulai menjalar dalam otaknya. Bukan, bukan masalah yang muncul
dalam otaknya. Lebih tepatnya adalah suatu perkataan yang mulai membuatnya
bingung, dan memaksanya agar mulai berfikir. “ Kamu terlalu pasif!” Kalimat itu
yang sekarang sedang di pikirannya. Dicernanya dengan dalam kalimat itu “Apanya
yang pasif? Dimana yang pasif? Pasif yang bagaimana yang membuatmu tak lagi
sayang?” pikirnya. “Kamu yang tidak tahu apa yang sedang aku rasa atau memang
kamu yang memang benar benar ingin pergi? Harusnya kamu tahu bagaimana kacaunya
aku dengan berbagai masalah yang menimpa kita, atau lebih tepatnya menimpaku.
Apa kamu juga paham tentang betapa usahaku agar terlihat tak ada apa-apa? Kamu
memang tak paham, dan tak akan pernah paham atau benar tak perlu paham. Jadi
aku memutuskan untuk berbalik mencoba memahamimu, memahami bahwa inginmu adalah
pergi. Aku berusaha rela, tapi tak benar-benar ikhlas. Aku melepas, tapi tak
benar-benar melupakanmu. Aku berusaha mengabaikan, tapi tetap mendoakanmu. Aku
masih disini, bersandiwara dalam kepura-puraanku tersenyum dalam segala beban
yang kutanggung. Bahagialah dengan keputusanmu. Tetap abaikan aku sebagai sosok
yang kau anggap begitu pasif dalam rasa
sayangku yang begitu dalam..dalam..sangaat dalam kepadamu :’’))” Katanya penuh
dengan helaan nafas dan airmata yg mengalir dalam diam.
Salam senyum rindu untuk kamu, yang
sempat kumiliki J