Kamis, 21 November 2013

Sosok Pasif-mu



            Didalam sudut ruangan berbentuk persegi, ada sosok yang mulai berfikir. Membayangkan tentang apa yang ingin dipikirkannya. Satu persatu kepingan masalah mulai menjalar dalam otaknya. Bukan, bukan masalah yang muncul dalam otaknya. Lebih tepatnya adalah suatu perkataan yang mulai membuatnya bingung, dan memaksanya agar mulai berfikir. “ Kamu terlalu pasif!” Kalimat itu yang sekarang sedang di pikirannya.  Dicernanya dengan dalam kalimat itu “Apanya yang pasif? Dimana yang pasif? Pasif yang bagaimana yang membuatmu tak lagi sayang?” pikirnya. “Kamu yang tidak tahu apa yang sedang aku rasa atau memang kamu yang memang benar benar ingin pergi? Harusnya kamu tahu bagaimana kacaunya aku dengan berbagai masalah yang menimpa kita, atau lebih tepatnya menimpaku. Apa kamu juga paham tentang betapa usahaku agar terlihat tak ada apa-apa? Kamu memang tak paham, dan tak akan pernah paham atau benar tak perlu paham. Jadi aku memutuskan untuk berbalik mencoba memahamimu, memahami bahwa inginmu adalah pergi. Aku berusaha rela, tapi tak benar-benar ikhlas. Aku melepas, tapi tak benar-benar melupakanmu. Aku berusaha mengabaikan, tapi tetap mendoakanmu. Aku masih disini, bersandiwara dalam kepura-puraanku tersenyum dalam segala beban yang kutanggung. Bahagialah dengan keputusanmu. Tetap abaikan aku sebagai sosok yang kau anggap begitu pasif  dalam rasa sayangku yang begitu dalam..dalam..sangaat dalam kepadamu :’’))” Katanya penuh dengan helaan nafas dan airmata yg mengalir dalam diam.
Salam senyum rindu untuk kamu, yang sempat kumiliki J