Pernah bermimpi menjadi bintang yang paling terang
di Langit malam? Pernah berharap menjadi lengkungan indah bulan sabit? Pernah
berangan menjadi pelangi yang memiliki banyak susunan warna yang menakjubkan?
Aku selalu berandai memiliki hidup seperti pelangi, penuh warna, tak monoton sama sekali meski seringkali menampakkan diri.
Tidak seperti hidup yang aku jalani ini , monoton. Tak ada warna, hanya hitam & putih yang pada akhirnya menjadi abu-abu. Yaa..sebenarnya hidup ini indah, tapi bukan dalam segala hal. Hanya indah saat dimana kita merasa bahagia, merasa berarti, merasa dibutuhkan, merasa berguna, dan merasa segalanya hanya milik kita seorang. Sadar bahwa hidup tak selalu diatas, hidup seperti bumi yang selalu berputar tiap waktu, kadang diatas, dibawah, dan kadang bukan apa-apa.
Aku juga pernah ada dibawah, mengalami segala cobaan & ujian dari sang Pencipta. Aku jatuh dan berada di titik kejenuhan dalam hidup, serta merasakan keputus asaan yang teramat dalam. Bukan hanya itu saja, aku pernah merasa tidak dihargai, pernah diabaikan, pernah juga didiamkan dan diacuhkan. Itu semua sempat melumpuhkan sistem kerja otakku. Dan karena semua itu aku sadar bahwa untuk dihargai, dianggap ada, untuk dipedulikan dan untuk memjadi berarti butuh jerih payah serta tangisan.
Disaat terbawah yang aku alami, aku sempat berpikir untuk sendiri, menjadi sosok yang individualis sehingga aku tak perku lagi memikirkan dan peduli kepada mereka yang hanya memandangku sebelah mata. Siapa peduli dengan mereka yang hanya akan menyebabkan petaka di hidupku? Aku tak butuh petaka dan kesedihan. Aku hanya butuh kebahagiaan dan canda tawa. Mereka bukan segalanya, karena mereka yang selama ini mengaku menjadi teman bahkan sahabat hanya ada pada saat aku berada diatas. Sedangkan pada saat aku terjatuh dibawah mereka menghilang. Dengan itu aku dapat mengetahui bahwa mereka tak pantas disebut sahabat.
Namun, lembaran kemonotonan dan kemunafikan itu sudah kututup. Hidupku tak lagi monoton seperti dulu. Bahagia ternyata sederhana, sesederhana aku memiliki kalian sahabat yang benar-benar nyata sebagai sahabat, bukan lagi ilusi ataupun bayangan.
Kalian yang aku miliki sekarang mampu membuatku sibuk sekali dengan kata tertawa. Dengan kalian, aku tak perlu lagi berandai tentang kapan warna-warni pelangi dapat tertuang di hidupku. Bukan lagi hitam dan putih yang aku lihat, mejikuhibiniu, indah dan akan sangaaaaaat indah J
Apalagi dengan adanya kehadiranmu dalam hariku, laki-laki yang memiliki posisi spesial dalam hati dan pikiranku. Hadirmu memang tak selalu membawa canda tawa, kadang juga tangis dan sakit yang kamu beri. Namun, dengan hadirmu dalam hidupku segalanya kukemas dalam bentuk syukur.
Kenyamanan yang kamu ciptakan selalu menghadirkan kepingan rindu dalam hati, tawa renyahmu kini menjadi alunan lagu favoritku. Aku menyukaimu dengan segala sifat dan sikapmu, dengan percakapan yang tercipta ketika kita duduk berdampingan, dengan semua harapan, angan, impian, dan doa tentang kita di masa mendatang yang akan selalu aku akhiri dengan kata aamiin..
Kamu penyebab tawaku, penyebab senyuman yang selau hadir, penyebab segala candu saat aku merindu, penyebab segala ketidakterimaanku saat waktu dan jarak tak memberi celah untukku bertemu denganmu. Kamu alasanku untuk bangkit saat aku jatuh. Kamu adalah rumah saat aku membutuhkan kenyamanan dan keteduhan setelah aku lelah dengan segala kemunafikan yang ada diluar sana.
Jangan heran jika aku bertahan sekalipun kamu sering menggoreskan luka, kamu sendiri yang telah membuatku seperti kesetanan akan sosokmu. Dan jangan salahkan aku, ketika kamu akan menemui aku di satu titik dimana aku menjadi seorang yang supeeeeeerr egois, egois karena menginginkan kamu untuk tetap menjadi milikku, egois karena agar kamu tetap disini bersamaku, egois karena aku ingin hanya aku satu-satunya yang memiliki hatimu tanpa kamu membaginya dengan yang lain.
Karena kamu rumah bagiku,tak akan kujual, tak akan kutukar, tak akan kuberikan kepada orang lain. Karena kenyamanan hanya kutemukan di dirimu. Hingga aku tak akan berpindah dan tak akan pernah ingin pindah sekalipun aku akan menjumpai rumah lainnya yang lebih bagus, indah, dan menarik. Karena aku tak pernah menginginkan keindahan dan kebagusan dalam dirimu. Kekuranganmu kuanggap sempurna.
Aku akan tetap tinggal entah sampai kapanpun. Bahkan ketika badai datang menjemput, aku tetap bertahan. Dan ketika segalanya rapuh pun, aku akan tetap ada untuk memperbaiki. Aku akan terus bersamamu, sampai kematian menjemputku dan akan mengantarku kepadamu di kehidupan yang lebih abadi nantinyaJ
Karena kamu rumah bagiku..tempatku kembali saat aku pergi {}
Aku selalu berandai memiliki hidup seperti pelangi, penuh warna, tak monoton sama sekali meski seringkali menampakkan diri.
Tidak seperti hidup yang aku jalani ini , monoton. Tak ada warna, hanya hitam & putih yang pada akhirnya menjadi abu-abu. Yaa..sebenarnya hidup ini indah, tapi bukan dalam segala hal. Hanya indah saat dimana kita merasa bahagia, merasa berarti, merasa dibutuhkan, merasa berguna, dan merasa segalanya hanya milik kita seorang. Sadar bahwa hidup tak selalu diatas, hidup seperti bumi yang selalu berputar tiap waktu, kadang diatas, dibawah, dan kadang bukan apa-apa.
Aku juga pernah ada dibawah, mengalami segala cobaan & ujian dari sang Pencipta. Aku jatuh dan berada di titik kejenuhan dalam hidup, serta merasakan keputus asaan yang teramat dalam. Bukan hanya itu saja, aku pernah merasa tidak dihargai, pernah diabaikan, pernah juga didiamkan dan diacuhkan. Itu semua sempat melumpuhkan sistem kerja otakku. Dan karena semua itu aku sadar bahwa untuk dihargai, dianggap ada, untuk dipedulikan dan untuk memjadi berarti butuh jerih payah serta tangisan.
Disaat terbawah yang aku alami, aku sempat berpikir untuk sendiri, menjadi sosok yang individualis sehingga aku tak perku lagi memikirkan dan peduli kepada mereka yang hanya memandangku sebelah mata. Siapa peduli dengan mereka yang hanya akan menyebabkan petaka di hidupku? Aku tak butuh petaka dan kesedihan. Aku hanya butuh kebahagiaan dan canda tawa. Mereka bukan segalanya, karena mereka yang selama ini mengaku menjadi teman bahkan sahabat hanya ada pada saat aku berada diatas. Sedangkan pada saat aku terjatuh dibawah mereka menghilang. Dengan itu aku dapat mengetahui bahwa mereka tak pantas disebut sahabat.
Namun, lembaran kemonotonan dan kemunafikan itu sudah kututup. Hidupku tak lagi monoton seperti dulu. Bahagia ternyata sederhana, sesederhana aku memiliki kalian sahabat yang benar-benar nyata sebagai sahabat, bukan lagi ilusi ataupun bayangan.
Kalian yang aku miliki sekarang mampu membuatku sibuk sekali dengan kata tertawa. Dengan kalian, aku tak perlu lagi berandai tentang kapan warna-warni pelangi dapat tertuang di hidupku. Bukan lagi hitam dan putih yang aku lihat, mejikuhibiniu, indah dan akan sangaaaaaat indah J
Apalagi dengan adanya kehadiranmu dalam hariku, laki-laki yang memiliki posisi spesial dalam hati dan pikiranku. Hadirmu memang tak selalu membawa canda tawa, kadang juga tangis dan sakit yang kamu beri. Namun, dengan hadirmu dalam hidupku segalanya kukemas dalam bentuk syukur.
Kenyamanan yang kamu ciptakan selalu menghadirkan kepingan rindu dalam hati, tawa renyahmu kini menjadi alunan lagu favoritku. Aku menyukaimu dengan segala sifat dan sikapmu, dengan percakapan yang tercipta ketika kita duduk berdampingan, dengan semua harapan, angan, impian, dan doa tentang kita di masa mendatang yang akan selalu aku akhiri dengan kata aamiin..
Kamu penyebab tawaku, penyebab senyuman yang selau hadir, penyebab segala candu saat aku merindu, penyebab segala ketidakterimaanku saat waktu dan jarak tak memberi celah untukku bertemu denganmu. Kamu alasanku untuk bangkit saat aku jatuh. Kamu adalah rumah saat aku membutuhkan kenyamanan dan keteduhan setelah aku lelah dengan segala kemunafikan yang ada diluar sana.
Jangan heran jika aku bertahan sekalipun kamu sering menggoreskan luka, kamu sendiri yang telah membuatku seperti kesetanan akan sosokmu. Dan jangan salahkan aku, ketika kamu akan menemui aku di satu titik dimana aku menjadi seorang yang supeeeeeerr egois, egois karena menginginkan kamu untuk tetap menjadi milikku, egois karena agar kamu tetap disini bersamaku, egois karena aku ingin hanya aku satu-satunya yang memiliki hatimu tanpa kamu membaginya dengan yang lain.
Karena kamu rumah bagiku,tak akan kujual, tak akan kutukar, tak akan kuberikan kepada orang lain. Karena kenyamanan hanya kutemukan di dirimu. Hingga aku tak akan berpindah dan tak akan pernah ingin pindah sekalipun aku akan menjumpai rumah lainnya yang lebih bagus, indah, dan menarik. Karena aku tak pernah menginginkan keindahan dan kebagusan dalam dirimu. Kekuranganmu kuanggap sempurna.
Aku akan tetap tinggal entah sampai kapanpun. Bahkan ketika badai datang menjemput, aku tetap bertahan. Dan ketika segalanya rapuh pun, aku akan tetap ada untuk memperbaiki. Aku akan terus bersamamu, sampai kematian menjemputku dan akan mengantarku kepadamu di kehidupan yang lebih abadi nantinyaJ
Karena kamu rumah bagiku..tempatku kembali saat aku pergi {}