Sebelum fajar menyapa ada yang lebih dulu menyapaku. Ada yang lebih lama menemaniku. Malam beserta kawannya. Ya, malam dengan jutaan bintang dan satu rembulan. Bukankah Indah? Langit hitam gelap tak lagi sepolos kertas kusam. Aku menyukainya. Tak ada yang tau mengapa dan karena apa. Karena yang aku tau dengan memandang langit ditengah kegelapan sudah menjadi sebagian nafasku. Sebagian nafasku ada diatas sana, dibawa oleh setiap gugusan bintang yg gemerlap. Dibawanya mendekat pada rembulan yg cantik :) Dan secara singkat, ketika fajar datang untuk menyapa. Aku tersentak, karena aku telah kehilangan separuh nafasku yg telah aku titipkan kepada sang bintang. Dia tak akan pernah pulang kembali, karena fajar telah merenggut semua. Semua malam indah, semua kawanan pembawa bahagia. Dan saat fajar selalu menyapa, aku membalas dengan senyuman penuh sesak. "Kembalikan separuh nafas yg telah kau renggut. Bahagiakan aku seperti dulu (lagi) :')
Selasa, 23 September 2014
Senin, 22 September 2014
Tentangmu.
Apa kabar kamu? Berapa tatap muka telah kita lewatkan? Berapa percakapan tak kita ucapkan? :)
Untukmu pria termanis, kali ini aku benar-benar merindukan kamu. Seluruh konsonan barisan kata mungkin tak akan bisa membantuku untuk menjelaskan betapa besar rindu untukmu.
Bukan karena kita sudah tidak bersama lagi. Bukan karena kamu belum kumiliki. Hanya saja entah karena apa kamu dan setiap senyummu selalu hadir sebelum dan saat tidurku. Ya, aku merindukanmu. Rindu akan setiap sapaanmu, rindu akan stiap keluh kesahmu saat kamu menghadapi sesuatu, rindu akan cara khasmu saat bercerita. Dan ya..aku juga rindu pada setiap khayalan magis serta semua khayalan tentang kita. Kamu pandai membuatku gila. Gila akan setiap susunan kata dan kalimat indahmu saat kamu menuliskan setiap imajimu tentang apa yang ada. Dan sampai saat ini entah aku yg bodoh atau memang pikiranku yg tak bisa lepas darimu. Tapi, aku menikmati semua ini. Menikmati bulir2 rindu yang datang saat bulan menyapa lelah. Saat sinar redup bintang mulai mengingatkan. Saat itupun, aku menyadari kamu, aku, bahkan kita tak akan pernah kembali.
Untukmu yg pernah membahagiakan hariku; semoga kita bahagia di masing-masing jalan. Selamat bertemu kembali. Aku berjanji akan menemuimu, dan saat itu akan ada tangan yg menggenggamku dan yg kugenggam. Bukan kamu memang. Karena pria ini adalah ayah dari anak-anakku kelak. Bahagialah.. aamiin ☺★☆