Kamis, 12 Maret 2015

Yang lalu..

Entah apa yang ada dalam otakku. Yang jelas, sejak saat itu dirimu bahkan bayangmu tak lepas dari fikiranku. Mengapa dan bagaimanapun aku tak pernah faham. Namun, yang jelas setiap kali sosokmu kulihat, mataku seperti ditarik oleh sesuatu. Layaknya medan magnet, kau sebagai kutub selatan dan aku sebagai kutub utara. Tak pernah bisa aku jauhi, walau hanya sejengkal.
Datanglah walau hanya sekejap..
Akan aku ceritakan segala tentang yang lalu. Tentang hal yang membuatku merasa canggung kini, yang membuatku merasa menyesal karena telah membuat jarak sejauh ini antara kita, kau dan aku.
Dulu, dulu sekali. Kau dan aku pernah dekat. Amat dekat. Dan akhirnya, entah karena apa atau siapa kita bisa sejauh ini. Aku tak menuduh dia, maupun mereka. Hanya, mungkin memang kita yang berjalan diarah yang salah, walau beriringan. Mungkin juga Yang Memberi Hidup tak menggariskan adanya "Kita"
                               .............

Selasa, 23 September 2014

Sebelum Fajar Menyapa.

Sebelum fajar menyapa ada yang lebih dulu menyapaku. Ada yang lebih lama menemaniku. Malam beserta kawannya. Ya, malam dengan jutaan bintang dan satu rembulan. Bukankah Indah? Langit hitam gelap tak lagi sepolos kertas kusam. Aku menyukainya. Tak ada yang tau mengapa dan karena apa. Karena yang aku tau dengan memandang langit ditengah kegelapan sudah menjadi sebagian nafasku. Sebagian nafasku ada diatas sana, dibawa oleh setiap gugusan bintang yg gemerlap. Dibawanya mendekat pada rembulan yg cantik :) Dan secara singkat, ketika fajar datang untuk menyapa. Aku tersentak, karena aku telah kehilangan separuh nafasku yg telah aku titipkan kepada sang bintang. Dia tak akan pernah pulang kembali, karena fajar telah merenggut semua. Semua malam indah, semua kawanan pembawa bahagia. Dan saat fajar selalu menyapa, aku membalas dengan senyuman penuh sesak. "Kembalikan separuh nafas yg telah kau renggut. Bahagiakan aku seperti dulu (lagi) :')

Senin, 22 September 2014

Tentangmu.

Apa kabar kamu? Berapa tatap muka telah kita lewatkan? Berapa percakapan tak kita ucapkan? :)

Untukmu pria termanis, kali ini aku benar-benar merindukan kamu. Seluruh konsonan barisan kata mungkin tak akan bisa membantuku untuk menjelaskan betapa besar rindu untukmu.
Bukan karena kita sudah tidak bersama lagi. Bukan karena kamu belum kumiliki. Hanya saja entah karena apa kamu dan setiap senyummu selalu hadir sebelum dan saat tidurku. Ya, aku merindukanmu. Rindu akan setiap sapaanmu, rindu akan stiap keluh kesahmu saat kamu menghadapi sesuatu, rindu akan cara khasmu saat bercerita. Dan ya..aku juga rindu pada setiap khayalan magis serta semua khayalan tentang kita. Kamu pandai membuatku gila. Gila akan setiap susunan kata dan kalimat indahmu saat kamu menuliskan setiap imajimu tentang apa yang ada. Dan sampai saat ini entah aku yg bodoh atau memang pikiranku yg tak bisa lepas darimu. Tapi, aku menikmati semua ini. Menikmati bulir2 rindu yang datang saat bulan menyapa lelah. Saat sinar redup bintang mulai mengingatkan. Saat itupun, aku menyadari kamu, aku, bahkan kita tak akan pernah kembali.

Untukmu yg pernah membahagiakan hariku; semoga kita bahagia di masing-masing jalan. Selamat bertemu kembali. Aku berjanji akan menemuimu, dan saat itu akan ada tangan yg menggenggamku dan yg kugenggam. Bukan kamu memang. Karena pria ini adalah ayah dari anak-anakku kelak. Bahagialah.. aamiin ☺★☆

Selasa, 01 Juli 2014

Karena Kamu Rumah Bagiku



Pernah bermimpi menjadi bintang yang paling terang di Langit malam? Pernah berharap menjadi lengkungan indah bulan sabit? Pernah berangan menjadi pelangi yang memiliki banyak susunan warna yang menakjubkan?
Aku selalu berandai memiliki hidup seperti pelangi, penuh warna, tak monoton sama sekali meski seringkali menampakkan diri.
          Tidak seperti hidup yang aku jalani ini , monoton. Tak ada warna, hanya hitam & putih yang pada akhirnya menjadi abu-abu. Yaa..sebenarnya hidup ini indah, tapi bukan dalam segala hal. Hanya indah saat dimana kita merasa bahagia,  merasa berarti, merasa dibutuhkan, merasa berguna, dan merasa segalanya hanya milik kita seorang. Sadar bahwa hidup tak selalu diatas, hidup seperti bumi yang selalu berputar tiap waktu, kadang diatas, dibawah, dan kadang bukan apa-apa.
          Aku juga pernah ada dibawah, mengalami segala cobaan & ujian dari sang Pencipta. Aku jatuh dan berada di titik kejenuhan dalam hidup, serta merasakan keputus asaan yang teramat dalam. Bukan hanya itu saja, aku pernah merasa tidak dihargai, pernah diabaikan, pernah juga didiamkan dan diacuhkan. Itu semua sempat melumpuhkan sistem kerja otakku. Dan karena semua itu aku sadar bahwa untuk dihargai, dianggap ada, untuk dipedulikan dan untuk memjadi berarti butuh jerih payah serta tangisan.
          Disaat terbawah yang aku alami, aku sempat berpikir untuk sendiri, menjadi sosok yang individualis sehingga aku tak perku lagi memikirkan dan peduli kepada mereka yang hanya memandangku sebelah mata.  Siapa peduli dengan mereka yang hanya akan menyebabkan petaka di hidupku? Aku tak butuh petaka dan kesedihan. Aku hanya butuh kebahagiaan dan canda tawa. Mereka bukan segalanya, karena mereka yang selama ini mengaku menjadi teman bahkan sahabat  hanya ada pada saat aku berada diatas. Sedangkan pada saat aku terjatuh dibawah mereka menghilang. Dengan itu aku dapat mengetahui bahwa mereka tak pantas disebut sahabat.
          Namun, lembaran kemonotonan dan kemunafikan itu sudah kututup. Hidupku tak lagi monoton seperti dulu. Bahagia ternyata sederhana, sesederhana aku memiliki kalian sahabat yang benar-benar nyata sebagai sahabat, bukan lagi ilusi ataupun bayangan.
          Kalian yang aku miliki sekarang mampu membuatku sibuk sekali dengan kata tertawa. Dengan kalian, aku tak perlu lagi berandai tentang kapan warna-warni pelangi dapat tertuang di hidupku. Bukan lagi hitam dan putih yang aku lihat, mejikuhibiniu, indah dan akan sangaaaaaat indah
J
          Apalagi dengan adanya kehadiranmu dalam hariku, laki-laki yang memiliki posisi spesial dalam hati dan pikiranku. Hadirmu memang tak selalu membawa canda tawa, kadang juga tangis dan sakit yang kamu beri. Namun, dengan hadirmu dalam hidupku segalanya kukemas dalam bentuk syukur.
          Kenyamanan yang kamu ciptakan selalu menghadirkan kepingan rindu dalam hati, tawa renyahmu kini menjadi alunan lagu favoritku. Aku menyukaimu dengan segala sifat dan sikapmu, dengan percakapan yang tercipta ketika kita duduk berdampingan, dengan semua harapan, angan, impian, dan doa tentang kita di masa mendatang yang akan selalu aku akhiri dengan kata aamiin..
          Kamu penyebab tawaku, penyebab senyuman yang selau hadir, penyebab segala candu saat aku merindu, penyebab segala ketidakterimaanku saat waktu dan jarak tak memberi celah untukku bertemu denganmu. Kamu alasanku untuk bangkit saat aku jatuh. Kamu adalah rumah saat aku membutuhkan kenyamanan dan keteduhan setelah aku lelah dengan segala kemunafikan yang ada diluar sana.
          Jangan heran jika aku bertahan sekalipun kamu sering menggoreskan luka, kamu sendiri yang telah membuatku seperti kesetanan akan sosokmu. Dan jangan salahkan aku, ketika kamu akan menemui aku di satu titik dimana aku menjadi seorang yang supeeeeeerr egois, egois karena menginginkan kamu untuk tetap menjadi milikku, egois karena agar kamu tetap disini bersamaku, egois karena aku ingin hanya aku satu-satunya yang memiliki hatimu tanpa kamu membaginya dengan yang lain.
          Karena kamu rumah bagiku,tak akan kujual, tak akan kutukar, tak akan kuberikan kepada orang lain. Karena kenyamanan hanya kutemukan di dirimu. Hingga aku tak akan berpindah dan tak akan pernah ingin pindah sekalipun aku akan menjumpai rumah lainnya yang lebih bagus, indah, dan menarik.  Karena aku tak pernah menginginkan keindahan dan kebagusan dalam dirimu. Kekuranganmu kuanggap sempurna.
          Aku akan tetap tinggal entah sampai kapanpun. Bahkan ketika badai datang menjemput, aku tetap bertahan. Dan ketika segalanya rapuh pun, aku akan tetap ada untuk memperbaiki. Aku akan terus bersamamu, sampai kematian menjemputku dan akan mengantarku kepadamu di kehidupan yang lebih abadi nantinya
J


Karena kamu rumah bagiku..tempatku kembali saat aku pergi {}

It's You :)



Tahukah kamu aku sering membicarakanmu dengan Tuhan?
Kamu adalah salah satu nama yang selalu aku sebut saat aku menghadap dan bersujud memohon doa kepada-Nya. Kamu adalah bagian dari hidupku yang tidak pernah akan bisa aku pisah dan aku sisihkan.
Aku selalu berdoa atas bahagiamu, kesehatanmu, kesuksesanmu, dan juga kebahagiaanmu. Kamu tahu? Semenjak kamu ada, kata bahagia adalah kamu. Kamu adalah alasanku untuk tetap tersenyum, kamu adalah semangatku saat aku mulai merapuh. Kamu..adalah  sosok yang tidak bisa aku definisikan  dengan kata-kata. Segala kata dalam kosakata bahkan tidak bisa aku susun untuk membentuk sebuah kata atau kalimat untuk mendefinisikanmu. Karena kamu menakjubkan, karena kamu lebih dari segalanya, karena kamu satu-satunya orang yang bisa membuatku menjadi gila dalam satu waktu. Kamu satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa sekaligus membuatku menangis. Kamu adalah obat ketika aku terluka. Kamu segalnya, untukku..
J
Kamu selalu ada dalam segala kondisi yang aku alami, kamu bukan sekedar pasangan hidup untukku, kamu adalah sahabat, kakak, dan malaikat untukku. Kamu adalah sahabat bagiku saat aku mengeluh dengan segala keadaan, kamu sahabat dan pendengar setiaku yang selalu bersedia mendengarkanku dengan segala ini itu yang sebenarnya tidak penting samasekali.
Kamu bagaikan kakak bagiku saat aku dilukai oleh orang-orang diluar sana. Kamu orang pertama yang tidak terima melihatku dilukai dengan perlakuan orang-orang diluar sana. Kamu yang pertama yang membelaku meski terkadang aku salah. Kamu selalu membenarkan segala tingkah lakuku dan perkataanku yang kurang baik dengan caramu yang halus.
Kamu adalah malaikat untukku, malaikat yang memberikan kenyamanaan untukku. Kamu malaikat yang selalu menyediakan bahumu saat aku membutuhkan sandaran. Kamu malaikat yang selalu akan mengurangi segala bebanku dengan caramu yang sederhana.
Aku menyukaimu dengan segala kesederhanaan yang kamu tunjukkan. Kesederhanaanmu membuat segalanya menjadi sempurna.

Untuk malaikat pembawa kebahagiaan sekaligus duka untukku…
Tetaplah disini <3

Rabu, 11 Juni 2014

Beberapa dari mereka yang diam-diam memperhatikan kita, penggemar.

Entah apa yang mereka pikir, masa bodoh juga tentang apa saja yang membuat mereka benci terhadapku. Aku rasa aku tak mempunyai salah. Ini bukan pembelaan, tapi memang nyatanya aku tak mempunyai salah kepada mereka. Aku tak membenci mereka, jangankan untuk membenci, mengenal mereka saja aku tidak.
Lucu? iya memang. Kadang aku ingin tahu alasan mereka membenciku, hingga semua tingkah laku dan perbuatanku mereka perhatikan.
Umm..sebentar. Bicara tentang memperhatikan, jangan-jangan mereka bukan membenciku. jangan-jangan mereka malah menggemariku? :p
Tapi bisa juga mereka memperhatikan aku karena hidupnya tak pantas lagi untuk diperhatikan? Atau bisa jadi mereka iri terhadap apa yang aku jalani dan apa yang aku miliki. Tapi entah apapun itu alasannya, aku tetap tidak membenci meraka, aku masih dengan senang hati menerima mereka sebagai temanku, atau bahkan sahabatku.
Aku tidak membenci kalian, penggemar. Tanpa kalian aku bukanlah aku yang bisa berpikir dengan cukup cerdas bagaimana aku harus berperilaku di hadapan kalian orang yang tak ada matinya memperhatikanku, membenciku, menggosipakanku.Dengan cara yang aku lakukan kalian akan semakin merasa bahwa kalian masih jaaaauuuuuuuuh dibawahku. Terimakasih atas pembelajaran hidup yang kalian beri, para penggemar.
LIHATLAH SEBERAPA HEBATNYA AKU!! :))

Alasan atas segala sebab ketidaktahuanku saat jantungku berdegup lebih cepat.

Sepertinya Aku Mencintaimu Awalnya, matamu dan senyummu tak
berarti apa-apa bagiku. Sapa lembutmu, tutur katamu, bukan menjadi alasan
senyumku setiap harinya. Semua mengalir begitu saja, kita tertawa bersama, kita
menghabiskan waktu bersama, tanpa tahu bahwa cinta diam-diam menyergap dan
menyeringai santai dibalik punggungmu dan punggungku. Kita saling bercanda,
menertawakan diri sendiri, tanpa tahu bahwa rasa itu menelusup tanpa ragu dan
mulai mengisi labirin-labirin hatimu dan hatiku yang telah lama tak diisi oleh
seseorang yang spesial. Tatapan matamu, mulai menjadi hal yang tak biasa di mataku. Caramu mengungkapkan pendapat, tak lagi menjadi hal yang kuhadapi dengan begitu santai. Renyah suara tawamu menghipnotis bibirku untuk melengkungkan senyum manis, menyambut lekuk bibirmu yang tersenyum saat menatapku. Aku tahu semua berubah menjadi begitu indah, sejak pembicaraan yang sederhana menjadi pembicaraan spesial yang begitu menyenangkan bagiku. Aku bertanya ragu,
inikah kamu yang tiba-tiba mengubah segalanya jadi merah jambu? Tanpa kusadari, namamu sering kuselipkan dalam baris-baris doa. Diam-diam aku senang menulis tentangmu, tersenyum tanpa sebab sambil terus menjentikkan jemariku. Tanpa kesengajaan, kauhadir dalam mimpiku, memelukku dengan erat dan hangat, sesuatu yang belum tentu kutemukan dalam dunia nyata saat aku terbangun nanti. Hari-hariku kini terisi oleh hadirmu, laju otakku kini tak mau berhenti memikirkanmu, aliran darahku menggelembungkan namamu dalam setiap tetes hemoglobinnya. Berlebihan kah? Bukankah mahluk Tuhan selalu bertingkah berlebihan ketika sedang jatuh cinta? Saat menatap matamu, ada kata-kata yang sulit keluar dari bibirku. Saat mendengar sapa manjamu, tercipta rasa yang begitu lemah untuk kutunjukkan walaupun aku sedang berada bersamamu. Aku diam, saat menatap matamu apalagi mendengar suaramu. Aku membiarkan diriku jatuh dalam rindu yang mengekang dan membuatku sekarat. Aku membiarkan diriku tersiksa oleh angan yang kauciptakan dalam magisnya kehadiranmu. Astaga Tuhan, ciptaanMu yang satu ini membuatku pusing tujuh keliling! Setiap malam, ketika dingin menyergap tubuhku, aku malah membayangkanmu, bagaimana jika kamu memelukku? Bagaimana jika ini? Bagimana jika itu? Ah, selain indah ternyata kamu juga pandai menganggu pikiran seseorang, sehingga otakku hanya berisi kamu, kamu, dan kamu
dalam berbagai bentuk! Sepertinya aku mencintaimu… Pada setiap percakapan kecil yang berubah
menjadi perhatian sederhana yang kauperlihatkan padaku. Sepertinya aku mencintaimu… Dengan kebisuan yang kausampaikan padaku. Kita hanya berbicara lewat tatapan mata, kita hanya saling mengungkapkan lewat sentuhan-sentuhan kecil. Sepertinya aku mencintaimu… Karena aku sering merindukanmu, karena aku bahkan tak tahu mengapa aku begitu menggilaimu Sepertinya aku mencintaimu… Kepada kamu, yang menjadi alasan atas segala sebab ketidaktahuanku saat jantungku berdegup lebih cepat.